Jumat, 02 Januari 2015

Bekerja Tanpa Pamrih, Memberi Kejelasan Satu Hal yang Pasti

Tentunya masih terngiang jelas di benak kita akan tragedi kecelakaan yang menimpa Pesawat AirAsia dengan nomer penerbangan QZ-8501 pada tanggal 28 Desember 2014, tragedi ini merenggut ratusan nyawa termasuk anak kecil, remaja, maupun orang dewasa. Tentunya evakuasi korban pesawat tidaklah mudah, apabila ditinjau dari buruknya cuaca maupun kondisi sang jenazah. Dari salah satu stasiun televisi swasta dikabarkan bahwa salah satu yang menjadi faktor penghambat ialah DNA yang tidak dapat teridentifikasi dikarenakan sudah banyak air yang masuk ke dalam tubuh. Ingin tahu lebih dalam mengenai seluk-beluk kinerja mereka? Stay focus on this post :)
Identifikasi mayat korban merupakan suatu proses penting yang dapat berguna untuk pendataan tentang subjek korban  sehingga kemudian dapat diserahkan kembali kepada keluarga korban.  Pemerintah sendiri telah membuat suatu prosedur yakni Disaster Victim Identification atau biasa disebut DVI merupakan suatu prosedur identifikasi yang dilakukan terhadap korban kematian akibat bencana massal ini. Dalam melakukan identifikasi, DVI mengacu pada standar baku International Police Organization (Interpol) yang terdiri dari:
  • Data primer berupa
  1. Profil gigi : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khas tiap orang. Tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda. Hal ini bergantung pula pada tipikal ras.
  2. Sidik jari (fingerprint) : sidik jari apda setiap orang memiliki pola yang berbeda dan tidak akan sama.
  3. Pemeriksaan DNA : DNA setiap orang juga pasti berbeda.
  • Data sekunder berupa
  1. Visual
  2. Fotografi
  3. Properti (pakaian, perhiasan, dokumen, dll)
  4. Medik – antropologi (pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, ciri khas khusus dan bekas luka yang ada di tubuh korban)
Pada korban kematian akibat bencana besar, seringkali ditemukan  kesulitan  terutama karena penampakan tubuh korban yang sama sekali tidak bisa dikenali secara kasat mata karena sebagian besar tubuhnya telah hancur dan tidak berbentuk.
Dalam keadaan seperti inilah kemudian identifikasi khusus dibutuhkan.
Identification
Terdapat beberapa fase yang ada dalam DVI yakni :
  1. In the scene of incidents atau biasa disebut tempat kejadian peristiwa (TKP). Pada fase ini, dilakukan pembatasan area dengan menggunakan garis batas polisi sehingga area TKP tidak terganggudan  dapat dilakukan labelling pada korban dan dokumentasi untuk kepentingan identifikasi
  2. Collecting post mortem data yang terdiri dari pemeriksaan medik – antropologi, pengambilan foto, pengambilan sidik jari, pemeriksaan rontgen, pemeriksaan odontology forensik, hingga pengambilan sampling untuk pemeriksaan DNA
  3. Collecting ante mortem data yang biasa dilakukan dengan wawancara mengenai riwayat korban pada orang terdekat terutama keluarga
  4. Reconciliation, pada fase ini, data post mortem dan ante mortem yang telah didapatkan dibandingkan dan dicocokkan. Jika indikator kecocokan sudah dicapai, maka identitas korban akan semakin mudah untuk diketahui.
  5. Returning to the family atau proses pengembalian pada keluarga jika korban telah teridentifikasi, selanjutnya dilakukan rekonstruksi hingga didapatkan kondisi/kosmetik terbaik untuk kemudian dikembalikan pada keluarganya.
Dalam pelaksanaanya, identifikasi bukan merupakan perkara yang mudah. Banyak kesulitan yang dialami karena kurangnya sistem informasi dan pengumpulan data yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, proses reconciliation menjadi sulit dilakukan karena kurangnya data informasi ante mortem korban. Kesulitan-kesulitan tersebut dikarenakan hal-hal sebagai berikut :
  • Buruknya pencatatan dan rekam medis, sehingga data – data hasil pemeriksaan korban terutama data primer tidak tersimpan dan tercatat dengan baik.
  • Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan tertent secara berkala, dalam kasus ini adalah gigi yang dapat digunakan sebagai data primer, sehingga data ante mortem profil gigi pun sulit didapatkan.
  • Kurangnya sosialisasi pemerintah untuk mengumpulkan data primer layaknya di luar negeri
Saya berharap semoga tragedi ini segera mendapatkan titik cerah dalam hal identifikasi jenazah yang sudah ada. Semoga pemerintah beserta Tim DVI Indonesia untuk ke depannya lebih meningkatkan kinerjanya atas dasar ikhlas semata dan niat baik yang berlatar kemanusiaan. And for the last but not least, semoga informasi ini berguna bagi pembaca. Salam Biologi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar